Kafe wangsa, kafe dengan rasa baru

Kafe Wangsa, Kafe dengan rasa baru

Ghadiza Kharamy Bya - Antropologi Sosial Universitas Indonesia 

Hari ini aku memutuskan untuk menghabiskan siangku di Cafe Wangsa, salah satu spot favorit mahasiswa FISIP UI yang selalu berhasil memberi suasana hangat, bahkan ketika jadwal kuliah mulai terasa menyesakkan. Lokasinya berada tak jauh dari gedung-gedung jurusan dan dekat dengan Teater Kolam ( TEKO ) cukup tersembunyi sehingga terasa seperti tempat pelarian kecil, tapi cukup dekat untuk tetap ramai di jam-jam sibuk.

Suasana Saat Pertama Masuk

Begitu masuk, aroma kopi dan roti panggang langsung menyergap aroma klasik yang entah kenapa selalu membuatku merasa produktif. Interiornya sederhana tetapi penuh karakter: kursi kayu yang berderit pelan, stop kontak yang tersebar strategis (sangat penting bagi mahasiswa yang hidup dari satu deadline ke deadline berikutnya), serta papan menu hitam yang ditulis dengan kapur sedikit berantakan tapi justru itulah pesonanya.

Sebagian besar pengunjung adalah mahasiswa FISIP: ada yang sibuk mengetik esai kebijakan publik, ada yang rapat kepanitiaan, ada juga yang sekadar nongkrong sambil membahas gosip jurusan. Tertawa kecil, deru blender, dan suara barista memanggil nama pesanan menyatu menjadi latar suara khas Wangsa.

Dari sudut tempat aku duduk, aku melihat beberapa mahasiswa baru berusaha keras menyiapkan presentasi kelompok, dengan wajah setegangan mau wawancara menteri. Di meja lain, kakak tingkat ngobrol santai sambil membahas masa depan, skripsi, dan kemungkinan kerja setelah lulus topik yang terasa jauh, tapi cepat atau lambat akan menghampiri.

Sambil mengetik jurnal ini, aku merasa Wangsa adalah salah satu tempat yang menyatukan ritme hidup mahasiswa FISIP tempat di mana tawa, stress, ide, dan mimpi bertemu dalam satu ruangan kecil yang hangat.